Aku Pindah Rumah

PROLOG

Tahun 2010 adalah tahun yang berbeda bagiku, tahun dimana aku harus memulai semuanya dari awal kembali, harus kembali beradaptasi dengan lingkungan yang baru, harus berusaha mencari teman-teman yang baru pula, tentunya juga harus menyesuaikan sikap dan perilaku di tempat dan lingkungan yang baru.

Setelah kurang lebih 18 tahun tinggal di Purwokerto Jawa Tengah, aku harus pindah mengikuti kedua orang tuaku yang pindah ke Lampung, tentunya tak mudah bagiku untuk meninggalkan kampung halaman yang telah membesarkan diriku, apalagi tangis haru tetangga dan sahabat-sahabat ketika mengiringi kepergian kami semakin membuat hati ini berat dan iba untuk meninggalkan kampung halaman tercinta.

Tetapi aku yakin, di dalam hidup banyak orang yang datang dan pergi, Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir, mereka pun datang silih berganti, ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati. Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya.

Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati, ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada. Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan.

 Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan, di mana ada awal, pasti akan ada akhir, akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya, sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru.

Jika kita sedih akan perpisahan, maka ingatlah sabda nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjelaskan mengenai 7 golongan yang mana di hari akhir, hari dimana matahari akan didekatkan diatas kepala hamba, hari dimana seorang anak lupa terhadap orang tuanya, hari dimana orang tua akan lari meninggalkan anak-anaknya, hari yang dimana tidak ada nangungan kecuali nangungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka akan mendapatkan nangungan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan salah satu golongan tersebut adalah orang-orang yang berpisah dan bertemu berlandaskan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

KISAH

ADAPTASIKU DENGAN WARGA SEKITAR ( CARUT MARUTNYA PERTANIAN DI DESA ADIREJO )

dsc066381

Pagi hari, waktu telah menunjukkan pukul 09.00, aku pun bergegas menuju persawahan guna melakukan adaptasi dengan beberapa warga yang kala itu mereka sedang sibuk bergelut dengan tanah garapannya.

Seperti kebiasaan orang desa yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, mereka biasanya sudah berada di ladang-ladang mereka pada pagi hari hingga waktu Dhuhur bahkan ada yang pulang saat adzan Maghrib dikumandangkan, sehingga jarang sekali kita jumpai warga yang berada di rumahnya pada jam-jam tersebut.

Selang beberapa saat aku berkeinginan untuk mengenal lebih jauh desa Adirejo ( nama desa baruku di Lampung ), sehingga aku pun menyusuri jalan-jalan yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Tidak lama kemudian, aku melihat plakat bertuliskan “Koperasi Pertanian” terpampang kokoh di depan rumah salah seorang warga.

Aku pun hendak melihat barangkali sang pemilik rumah ada dan bisa kutemui, akhirnya kudapati seorang kakek sedang menyapu dan membersihkan kotoran dari daun-daun yang berjatuhan di samping rumah tersebut.

Kemudian aku pun mendekati kakek yang pada saat itu tidak mengenakan pakaian, setelah kuucapkan salam kepada beliau, beliau pun menjawab salamku dan bergegas mengambil pakaian yang dia letakkan di tali yang biasa dipakai untuk menjemur baju.

Kemudian dengan senyum ramahnya, beliau mempersilahkanku untuk masuk ke rumahnya. aku pun mulai menanyakan kabar beliau dan keluarganya. Kakek berusia 75 tahun ini pun menjawab dengan suara lantang seakan hendak memimpin pasukan perang.

Kemudian aku pun memperkenalkan diri begitu juga dengan beliau. Pembicaraan pun berlanjut seakan waktu tak memperkenankan kami untuk berhenti. Setelah perkenalan yang berkesan tersebut, aku pun memulai inti pembicaraan.

Aku mulai bertanya kepada beliau masalah pertanian di Desa Adirejo. Seakan aku menaruh pemantik bagi beliau, sedikit saja pertanyaan yang aku lontarkan kepada beliau, beliau pun menjawabnya dengan panjang lebar dan penuh semangat. Melihat semangat tinggi beliau tersebut.

Beliau mulai menceritakan sejarah pertanian di Desa Adirejo, bahwasanya dahulu pada masa Orde Baru, pada saat pemerintahan Soeharto, pertanian di Dusun Donomulyo berkembang pesat dan secara keseluruhan berada dalam kondisi yang baik serta sedikit permasalahan yang muncul pada waktu itu.

Beliau pada saat itu mengurusi sebuah kelompok tani. Beliau melanjutkan ceritanya bahwa keadaan tersebut mulai berubah semenjak terjadi reformasi. Kemudian pada tahun 2000 beliau ditugasi oleh koordinator kecamatan untuk mengurusi koperasi, sedangkan tugas di kelompok tani beliau limpahkan ke generasi di bawah beliau. Beliau pun menjabat sebagai ketua koperasi tersebut.

Hingga sekarang meskipun tidak sejaya dulu, koperasi yang beranggotan 52 orang tersebut masih tetap eksis meski harus berjuang mempertahankan diri di tengah ketatnya persaingan, terutama dengan pihak-pihak perbankan yang ada di sekitar Kecamatan Pekalongan Lampung Timur yang semakin gencar mempromosikan program-program mereka.

Kemudian aku pun menanyakan permasalahan utama pertanian di Desa Adirejo. Beliau pun mulai menjelaskan bahwasanya permasalahan pertanian yang utama adalah masalah hama, terutama hama tikus yang mana pada tahun 1963 masalah ini menjadi permasalahan serius yang sangat sulit diatasi sampai-sampai beliau menyebutkan bahwa tikus-tikus tersebut diburu oleh warga untuk dimakan, karena pada waktu tersebut terjadi paceklik yang berkepanjangan akibat serangan hama tikus.

unduhan

Pemerintah pada saat itu juga memberi hadiah bagi mereka yang bisa memburu dan mengumpulkan tikus. Permasalahan yang sama terjadi akhir-akhir ini, dimana petani disibukkan dengan hama tikus, berbagai cara telah ditempuh akan tetapi masih belum membuahkan hasil yang diinginkan hingga sekarang, mereka terpaksa pasrah dengan masalah yang mereka hadapi tersebut. Selain hama tikus yang menjengkelkan, petani juga dihadapkan permasalahan lain seperti burung, akan tetapi masalah ini tidak seserius permasalahan tikus.

Pak Toto kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa ada permasalahan lain di samping permasalahan hama. Permasalahan yang juga dihadapi ini adalah cara bertanam. Kurangnya kesadaran masyarakat menerapkan cara bertanam yang dianjurkan pemerintah membuat hasil pertanian tidak dapat memenuhi target yang ditetapkan oleh pemerintah.

Masyarakat lebih senang memilih cara mereka sendiri sehingga kita dapatkan di lapangan berbagai macam cara bertanam yang diterapkan oleh masyarakat. Menurut pandangan Pak Toto, permasalahan ini muncul karena kurangnya sosialisasi praktis dari Dinas Pertanian. Kebanyakan sosialisasi yang dilakukan hanya sebatas teori.

Di samping itu juga, ada permasalahan lain yang mencuat ke permukaan berkaitan dengan penggunaan pupuk. Pola pikir masyarakat yang telah berubah mengakibatkan mereka lebih senang menggunakan barang-barang instan.

Dahulu mereka masih memanfaatkan pupuk kandang atau pupuk organik, akan tetapi sekarang keadaan telah berubah, mereka lebih senang memakai pupuk anorganik yang mengandung bahan-bahan kimia, sehingga lama-kelamaan tingkat kesuburan tanah semakin berkurang, akhirnya hal ini secara tidak langsung mempengaruhi produktivitas pertanian itu sendiri.

Sebenarnya telah ada bantuan dari pemerintah berupa alat untuk memproduksi pupuk organik, akan tetapi alat tersebut sampai sekarang belum beroperasi, menurut pengamatan Pak Toto hal ini disebabkan karena tidak lengkapnya alat, sehingga membutuhkan komponen lain agar alat tersebut dapat beroperasi dan juga karena pasokan bahan baku pembuatan pupuk organik yang semakin langka, mengingat sudah tidak banyak warga yang memelihara binatang ternak lantaran harga daging yang terus menurun. Sehingga hal ini memaksa warga untuk berpindah profesi dari seorang peternak menjadi petani yang juga menggunakan pupuk anorganik untuk pertaniannya.

Harapan ayah dari 4 orang anak ini atas berbagai permasalahan yang terjadi sekarang adalah, adanya upaya dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat untuk senantiasa bekerja sama dan menjalin komunikasi atas segala keluhan atau permasalahan yang sedang dihadapi.

Hal ini tentunya dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran serta masing-masing pihak, sehingga upaya yang dilakukan tidak hanya sebatas upaya semata akan tetapi upaya tersebut lahir dari kesadaran yang tumbuh dari hati nurani masyarakat sendiri. Sehingga pada akhirnya permasalahan apapun yang dihadapi oleh masyarakat akan lebih mudah untuk dipecahkan dan diatasi bersama.

Itulah harapan besar dari Pak Toto selaku ketua Koperasi Pertanian di Desa Adirejo, aku mengharap semoga ada usaha yang nyata dari semua pihak agar harapan beliau yang mungkin mewakili semua warga dapat segera terealisasi.

Setelah pembicaraan demi pembicaraan tersampaikan dengan rapi dan terstruktur dari lisan beliau, maka tak terasa telah berlalu satu jam dari waktu siang itu. aku pun merasa puas dengan penjelasan beliau yang begitu gamblang dari awal hingga akhir.

Akhirnya aku pun berpamitan dengan beliau, beliau berharap agar aku dapat berkunjung lagi ke kediaman beliau bersama keluargaku. Beliau kemudian mengantarkanku sampai halaman depan rumahnya. Aku pun mengucapkan salam perpisahan, dengan senyum bahagianya beliau menjawab salam perpisahanku. Walaupun pertemuan siang itu sangat singkat bagiku, akan tetapi aku banyak mengambil pelajaran berharga dari pengalaman hidup beliau. Semoga Allah menjaga beliau, memberikan hidayahNya dan membimbing beliau menuju petunjukNya. Amin.

Leave a Reply