Kisahku di Kukerta ( Kisah 1 )

 

PROLOG

 Masa muda adalah masa kejayaan, masa dimana dada masih tegak membusung, masa dimana kepala masih tegak menghadap kedepan, masa dimana tangan masih kuat untuk menggenggam, masa dimana kaki masih kuat untuk melangkah dan berpetualang, masa dimana pikiran masih segar untuk berfikir dan berimajinasi, masa dimana jiwa masih haus akan petualangan dan pengalaman baru.

 Maka sudah selayaknya kita menggunakan masa muda kita dengan sebaik-baiknya, dengan banyak pergi berpetualang menjelajahi segala penjuru bumi, karena dengan merantau kita akan mendapatkan banyak faidah dan manfaat yang semakin mendorong kita untuk menjadi pribadi yang semakin baik dari sebelumnya.

 Imam Syafi’i Rahimahullah, menganjurkan para pemuda untuk terus merantau dalam rangka mencari ilmu, di antara syair beliau yang menganjurkan para pemuda untuk merantau  meninggalkan zona nyamannya menuju wilayah baru, suasana baru, pengalaman baru, dan berkenalan dengan orang-orang baru pula adalah sebagai berikut…

مَا فِي المُقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ                                مِنْ رَاحَةٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفَارِقُهُ                            وَانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ                             إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

وَالأُسْدُ لَوْلَا فِرَاقُ الأَرْضِ مَا افْتَرَسَتْ                     وَالسَّهْمُ لَوْلَا فِرَاقُ القَوْسِ لَمْ يُصِبْ

وَالشَّمْسُ لَوْ وَقَفَتْ فِي الفُلْكِ دَائِمَةً                      لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

وَالتُرْبُ كَالتُرْبِ مُلْقًى فِي أَمَاكِنِهِ                         وَالعُوْدُ فِي أَرْضِهِ نَوْعٌ مِنْ الحَطَبِ

فَإِنْ تَغَرَّبَ هَذَا عَزَّ مَطْلُبُهُ                                        وَإِنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كَالذَّهَبِ

#-Merantaulah…-

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).#

#Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.#

#Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.#

#Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.#

#Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.#

#Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.#

#Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.# (Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39).

Jika pada kesempatan yang lalu saya telah menceritakan kisah petualangan saya di pulau sempu, monggo dilihat, http://lembahilmu.com/2016/02/11/petualangan-di-pulau-sempu/ ( klo gak baca rugi lohh, heheh ).

Maka pada kesempatan kali ini saya akan sedikit menceritakan beberapa pengalaman merantau saya ke sebuah Dusun yang bernama Bangunrejo, sebuah kecamatan yang saya diberi kesempatan untuk menambah ilmu dan pengalaman dalam masa KUKERTA, adapun bentuk pengalaman yang akan saya tulis kali ini akan dibagi menjadi beberapa kisah, dipisahkan sesuai dengan tema yang sedang dibahas, kepada para pengunjung http://lembahilmu.com silahkan menikmatinya.

KISAH 1

Semangat Santri TPA

20150124_161037Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB. Seperti hari-hari biasanya, saya dan teman saya bersiap-siap untuk pergi ke musholla yang berada di dusun Bangunrejo untuk mengajar TPA. Letak TPAini cukup jauh dari pos Kukerta. Untuk menuju ke TPA, kami harus menempu
h perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, melewati jalan yang menanjak dan menurun. Apalagi perjalanan ini kami tempuh dengan berjalan kaki sehingga kami harus menghabiskan waktu kurang lebih 25 menit.

Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh lagi melelahkan, sampailah kami di TPA Bangunrejo. Kedatangan kami pun disambut hangat oleh santri-santri. Kami merasa bangga dengan santri-santri ini, karena mereka memiliki semangat yang tinggi untuk belajar membaca Al-Qur’an. Hal ini terbukti dengan kehadiran mereka di awal waktu untuk menunggu kedatangan ustad-ustad yang akan mengajarnya. Selain itu, hal yang membuat saya takjub, ketika turun hujan mereka tetap semangat dan pantang menyerah untuk hadir ke TPA.

Sebagaimana yang terjadi pada salah satu santri yang bernama Mega ketika dia telat datang ke TPA, kami bertanya kepadanya: “Mega, kenapa kamu telat?” dia menjawab: “tadi saya kehujanan kak, akhirnya saya basah kuyup, terus saya pulang untuk ganti baju sampai tiga kali.” Saya bertanya lagi: “kenapa sampai mengganti baju tiga kali?” dia menjawab: “setelah ganti baju saya berangkat ke TPA lagi, di pertengahan jalan saya kehujanan dan saya tidak membawa jas hujan sehingga baju saya pun basah lagi, terus saya pulang untuk ganti baju serta membawa jas hujan dan berangkat ke TPA, dengan sebab inilah saya jadi telat.” Sungguh sangat terenyuh hati ini ketika mendengar semangat seorang bocah dalam menuntut ilmu, ingin rasanya meneteskan air mata, jika bukan karena malu, niscaya sudah menetes air mata ini.20150125_171009

Setelah selesai proses belajar-mengajar di TPA, kami mengajak para santri untuk jalan-jalan sambil mengantar mereka pulang. Tujuannya adalah untuk mengetahui rumah para santri sambil meminta izin kepada wali santri bahwa kami KUKERTA STAI ALI BIN ABI THALIB akan mengadakan pembelajaran TPA di masjid tersebut.

Saya takjub ketika mengetahui ternyata rumah para santri itu jauh, jarak antara TPA dan rumah para santri dapat ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih 30-45 menit. Ketika kami tanya: “Apakah kalian tidak capek?”. Mereka menjawab: “tidak kak, kami senang kok!”.

Subhanallah, betapa tinggi semangat para santri sehingga halangan dan rintangan yang menghadang  tidak membuat semangatnya turun, bahkan mereka tidak mau libur satu hari pun untuk belajar di TPA. Akan tetapi yang sangat disayangkan, TPA ini tidak memiliki penerus untuk mengajar para santri karena pengajar sebelumnya telah meneruskan sekolahnya di luar kota sehingga tidak dapat mengajar lagi.

Kami telah mengonfirmasikan hal tersebut kepada salah satu wali santri yang bernama Pak Maksum. Beliau mengatakan: “saya sudah pernah membicarakan hal ini kepada warga dan saya katakan apabila diperlukan, kami para wali santri sanggup iuran untuk membayar guru ngaji tersebut, akan tetapi hal ini pun tidak berjalan lancar, mungkin sekitar 3 bulanan berjalan ternyata TPA ini bubar.” Setelah mendengar keluhan Pak Maksum, kami memberi tahukan bahwa kami telah meminta tolong kepada Pak Sambung yaitu salah satu guru ngaji yang berada di dusun Ngeseng ( yaitu dusun yang letaknya bersebelahan dengan dusun Bangunrejo ) untuk mengajar di TPA tersebut.

Setelah lama berbincang-bincang, tak terasa waktu pun semakin sore, tak lama lagi azan pun berkumandang. Maka kami mengundurkan diri untuk pulang. Beliau dan para santri berharap agar ada orang yang mau menggantikan kami untuk mengajar di TPA ketika nantinya kami sudah pergi dari dusun Bangunrejo.

Sungguh luar biasa semangat para santri TPA Bangunrejo, mereka tidak mengiraukan hambatan-hambatan yang menghalanginya, hal yang membuat saya kagum adalah jarak rumah yang jauh dan hujan bukanlah halangan bagi mereka untuk datang ke TPA dan hal ini tidak membuat semangat mereka menurun. Semangat mereka dalam mempelajari Al Quran semakin membakar jiwa kita untuk semakin giat dalam mengajar dan tentunya berpikir mencari solusi bagi mereka agar tetap bisa mengaji dan belajar Al Quran walau kami nantinya sudah pergi.20150124_161220

Berawal dari masalah inilah, akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan pengkaderan guru-guru TPA disetiap dusun yang merupakan cakupan kami dalam pengabdian KUKERTA kami, dan Alhamdulillah pengkaderan yang kami lakukan rutin selama 3 minggu bisa berjalan lancar dan menjadi kebahagiaan dan ketenangan kami, karena setidaknya anak-anak kecil yang haus akan mengaji bisa terus belajar di setiap sorenya.

Leave a Reply