Jalan-jalan ke Aceh? Jangan Lupa Mencoba Kopi Gayo

Kopi Gayo – Jika anda sedang berkunjung ke kota Aceh, jangan lupa untuk mencoba kopi Gayo. Penasaran dengan yang namanya kopi Gayo ?, silahkan baca artikel berikut ini.


1. Sejarah Kopi Gayo


Pixabay.com

Pixabay.com

Sekarang di Aceh ada dua model kopi yg di budidayakan merupakan kopi Arabika serta kopi Robusta Dua model Kopi Gayo yg sangatlah kondang yakni kopi Gayo (Arabika) serta kopi Ulee Kareeng (Robusta). Utk kopi model Arabika kebanyakan dibudidayakan di lokasi dataran tinggi “Tanah Gayo”, Aceh Tenggara, serta Gayo Lues, dan di Kabupaten Pidie (khususnya lokasi Tangse serta Geumpang) serta Aceh Barat lebih menguasai diperkembangkan oleh warga di sini bersifat kopi model Robusta.

Kopi Arabika agak besar serta berwarna hijau gelap, daunnya bersifat oval, tinggi pohon menggapai tujuh mtr.. Akan tetapi di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga biar kira-kira 2-3 mtr.. Tujuannya biar enteng kala di panen. Pohon Kopi Arabika mulai menghasilkan buah pertamanya dalam tiga th.. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang seputar 15 cm. Dedaunan yg di atas lebih muda warnanya dikarenakan cahaya matahari dan dibawahnya lebih gelap. Tiap-tiap batang menyimpan 10-15 rangkaian bunga kecil yg dapat jadi buah kopi.

Dari sistem berikut lantas keluar buah kopi dimaksud cherry, bersifat oval, dua buah berdampingan. Kopi Gayo menjadi diantara satu komoditi unggulan yg datang dari Dataran Tinggi Gayo. Perkebunan Kopi yg udah diperkembangkan sejak mulai th. 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah serta Aceh Tengah.

Ke dua daerah yg ada di ketinggian 1200 m dari permukaan laut itu miliki perkebunan kopi terluas di Indonesia yakni dengan luas seputar 81. 000 ha. Semasing 42. 000 ha ada di Kabupaten Bener Meriah serta selebihnya 39. 000 ha di Kabupaten Aceh Tengah. Gayo merupakan nama Suku Asli yg tempati daerah ini. Sebagian besar warga Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi.

Varietas Arabika menguasai model kopi yg diperkembangkan oleh banyak petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yg dihasilkan dari Tanah Gayo menjadi yg paling besar di Asia Kopi Gayo menjadi diantara satu kopi khas Nusantara asal Aceh yg cukup banyak digandrungi oleh bermacam golongan didunia.

Kopi Gayo miliki aroma serta rasa yg sangatlah khas. Biasanya kopi yg ada, rasa pahitnya masih tetap ketinggal di lidah kita, akan tetapi tdk demikianlah pada kopi Gayo. Rasa pahit nyaris tdk merasa pada kopi ini. Cita rasa kopi Gayo yg asli ada pada aroma kopi yg harum serta rasa gurih nyaris tdk pahit. Bahkan juga ada pula yg berasumsi kalau rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yg datang dari Jamaika. Kopi Gayo dihasilkan dari perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Di daerah itu kopi ditanam melalui langkah organik tanpa ada bahan kimia maka kopi ini di kenal juga sebagai kopi hijau (ramah lingkungan). Kopi Gayo disebut-sebut sebagai kopi organik paling baik didunia.

Perkebunan kopi yg udah diperkembangkan sejak mulai th. 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah serta sebagian kecil lokasi Gayo Lues. Ketiga daerah yg ada di ketinggian 1200 m diatas permukaan laut itu miliki perkebunan kopi terluas di Indonesia, yakni seputar 81. 000 hektar. Semasing 42. 000 hektar ada di Kabupaten Bener Meriah, selebihnya (39. 000 hektar) di Kabupaten Aceh Tengah.

Warga Gayo berprofesi sebagai petani kopi dengan dominasi varietas Arabika. Produksi kopi Arabika yg dihasilkan dari Tanah Gayo menjadi yg paling besar di Asia.

Mengenai penyebaran tumbuhan kopi ke Indonesia dibawa seseorang berkebangsaan Belanda pada zaman ke-17 yg beroleh biji Arabika mocca dari Arabia ke Batavia (Jakarta). Kopi Arabika itu pertama-tama ditanam serta diperkembangkan di daerah Jatinegara, Jakarta, memanfaatkan tanah partikelir Kesawung yg waktu ini lebih di kenal Pondok Kopi.

Penyebaran sesudah itu dari tanaman kopi itu hingga juga ke daerah dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Dari periode kolonial Belanda sampai saat ini Kopi Gayo teristimewa udah jadi mata pencaharian pokok sebagian besar warga Gayo bahkan juga udah jadi salah satu sentra tanaman kopi mutu ekspor di daerah Aceh Tengah. Tidak hanya itu bukti arkeologis bersifat bekas pabrik pengeringan kopi periode kolonial Belanda di Desa Wih Porak, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah udah berikan kejelasan kalau kopi pada waktu selanjutnya pernah jadi komoditas terutama perekonomian.

Hadirnya kekuasaan Belanda di Tanah Gayo th. 1904 dan merta diikuti juga dengan hadirnya pendatang-pendatang lain. Pada waktu itu lokasi Aceh Tengah jadikan onder afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Di segi lain, hadirnya Belanda juga udah berikan penghidupan baru dengan buka area perkebunan, di antaranya kebun kopi di Tanah Gayo (di ketinggian 1. 000 – 1. 700 m diatas permukaan laut).

Saat sebelum kopi datang di Dataran tinggi Gayo, tanaman teh serta lada udah terlebih dulu dikenalkan. Menurut pakar pertanian Belanda JH Heyl dalam bukunya berjudul Pepercultuur in Atjeh menuturkan aslinya tanaman lada dibawa dari Mandagaskar (Afrika Timur) dalam zaman VII atau VIII ke tanah Aceh (Zainuddin, 1961 : 264).

Sayangnya ke dua tanaman itu kurang beroleh perhatian serius dari pemerintah kolonial. Kelanjutannnya Belanda lantas mengenalkan serta buka perkebunan kopi pertama seluas 100 ha pada th. 1918 di daerah Belang Gele, yg saat ini termasuk juga lokasi Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Tidak hanya dibukanya area perkebunan, di th. 1920 keluar kampung baru warga Gayo di seputar perkebunan kopi Belanda itu, serta pada th. 1925-1930 mereka buka peristiwa baru dengan buka kebun-kebun kopi rakyat.

Pembukaan itu dilandasi oleh pengetahuan yg diraih petani dikarenakan bertetangga dengan perkebunan Belanda itu. Pada akhir th. 1930 empat buah kampung udah berdiri di seputar kebun Belanda di Belang Gele itu, yakni Kampung Belang Gele, Atu Gajah, Paya Sawi, serta Pantan Peseng (Melalatoa, 2003 : 51).

Satu diantara bukti kepurbakalaan yang terkait dengan komoditas kopi ini yaitu temuan berbentuk bekas pabrik pengeringan kopi (biji kopi) di dekat Masjid Baitul Makmur, Desa Wih Porak, Silih Nara, Aceh Tengah, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Susilowati, 2007). Dengan cara astronomis terdapat pada 040 36. 640′ LU serta 0960 45. 660′ BT (47 N 0251594 UTM 0510018).

Sisa pabrik pengeringan kopi itu tempati tempat memiliki ukuran 110 m x 60 m, beberapa saat ini sudah jadi tempat Pesantren Terpadu Darul Uini. Pada tempat itu ada bekas bangunan berbentuk bekas pondasi, bekas tembok bangunan, sisa tempat kincir air, serta sebagian kolam tempat sistem pengeringan kopi.

Tempat kincir air ditandai dengan 3 buah tembok berketebalan 15 cm, tinggi sekitaran 2 m serta dibagian permukaan atasnya didapati semasing 2 buah baut besi yang diprediksikan sebagai tempat bertumpunya kincir angin. Di dekat sisa tempat kincir air itu didapati dua buah kolam tempat pemrosesan kopi, satu diantaranya memiliki ukuran panjang sekitaran 2, 65 m, lebar, 2, 33 m serta tinggi sekitaran 1, 25 m.

Di bagian selatan ada saluran air yang menuju ke kolam dibagian selatan. Diluar itu juga ada sisa tembok kolam pengering gabah kopi dibagian paling selatan sesudah tembok saluran air. Pada sisa tembok kolam itu masihlah ada lubang saluran air dibagian utara. Sesudah saat kemerdekaan pabrik itu pernah telantar, setelah itu sekitaran th. 1960-an sampai th. 1979 pabrik itu pernah dikelola oleh PNP I, lalu kepemilikannya beralih ke PT Ala Silo serta paling akhir lahannya saat ini dipunyai oleh Dinas Perkebunan Pemerintah Daerah Kab. Aceh Tengah.

Pada paruh ke-2 th. 1950-an, orang Gayo mulai berkebun kopi. Pada periode itu hutan-hutan dibabat untuk jadikan kebun kopi. Pada th. 1972 Kabupaten Aceh Tengah terdaftar sebagai penghasil kopi paling besar dibanding dengan kabupaten yang lain di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Luas areal kebun kopi di Kabupaten Aceh Tengah pada th. 1972 yaitu 19. 962 ha. Perkebunan kopi untuk warga Kabupaten Bener Meriah (pemekaran dari Kab.

Aceh Tengah) serta Kabupaten Aceh Tengah adalah urat nadi perekonomian yang paling menonjol, terkecuali perdagangan sayur mayur seperti kol/kubis, wortel, cabai, serta cokelat. Sebagai komoditas ekspor, 27. 953 keluarga di Aceh Tengah menggantungkan hidup mereka pada budi daya kopi dengan luas areal 46. 392 ha, serta dengan rata-rata 720, 7 kg/ha/th. (BPS Kab. Aceh Tengah 2005 : 144-145). Perseteruan yang berkelanjutan mengakibatkan sekurang-kurangnya 6. 440 ha tempat kopi telantar serta 5. 037 keluarga kehilangan lapangan kerja.

Sesudah perseteruan mereda serta di tandatanganinya kesepakatan damai RI-GAM pada akhir th. 2005, beberapa petani kopi saat ini mulai berani bercocok tanam di kebun kopi yang terdapat jauh di lereng gunung, tak sebatas menanam kopi di pekarangan tempat tinggal.

Harga jual kopi juga -meski di pengaruhi harga kopi dunia- relatif stabil serta selalu menguat lantaran jalur perdagangan pada Takengon – Bireun – Lhoksemauwe – Medan bisa dilewati kendaraan angkut tanpa ada kemungkinan besar. Saat ini, kesibukan perkebunan kopi mulai bangkit kembali serta saat ini sudah jadi tulang punggung perekonomian di Kabupaten Aceh Tengah Bener Meriah serta Gayo Lues.


2. Manfaat Kopi Gayo


Sangatlah pemula, minum kopi bisa bikin orang melek hingga begitu pas untuk rekan bekerja. Diluar itu, nyatanya kopi mempunyai faedah lainnya untuk badan, tersebut salah satunya.

• Kopi hitam bisa tingkatkan daya ingat. Kopi hitam menolong otak tetaplah aktif, dengan cara berbarengan juga menolong aktifkan saraf serta menghindar dimensia awal.

• Kopi dapat tingkatkan kecerdasan. Cafein adalah simultan psikoaktif yang bereaksi dengan badan serta bisa tingkatkan mood, daya serta manfaat kognitif seorang. Ini bakal bikin pria ataupun wanita jadi makin cerdas.

• Kopi bakal menolong bersihkan “isi perut”. Meminum kopi kerapkali bikin Anda sering buang air kecil. Konsumsi kopi hitam bakal bikin toksin serta bakteri pada badan yang ada di perut keluar berbarengan urine.

• Membantu turunkan berat tubuh. Satu diantara faedah dari kopi hitam yaitu menolong turunkan berat tubuh dengan cepat lantaran bisa membakar lemak. Minuman ini dapat dinilai bisa tingkatkan metabolisme badan, 50 % tambah baik dari pada lakukan senam.

• Mengatasi penyakit jantung. Minum kopi hitam tanpa ada gula berguna juga untuk jantung. Kopi kurangi tingkat peradangan pada badan hingga turunkan resiko penyakit kardiovaskular.

• Kopi sebagai anti-oksidan. Satu cangkir kopi mengandung vitamin B2, B3 serta B5 dan mangan, magnesium serta kalium.

• Mengurangi resiko diabetes. Kopi hitam nyatanya dapat kurangi resiko terserang diabetes type 2.

• Mencegah kanker. Katakan selamat tinggal pada kanker dengan meminum kopi hitam tanpa ada gula. Minuman ini mengandung karakter antikanker yang juga menolong turunkan resiko kanker hati.

Kopi adalah ramuan panjang usia yang baik. Kopi yang diminum tanpa ada gula bakal menolong melindungi fikiran serta badan. Minum kopi hitam 2 x satu hari bisa menghindar penyakit Parkinson, lantaran cafein tingkatkan kandungan dopamin pada badan.

• Ini dia faedah paling akhir minum kopi. Kopi bisa tingkatkan mood hingga jadi “obat” paling baik untuk melawan depresi.

Tetapi butuh digarisbawahi, konsumsi kopi sebaiknya seperlunya saja serta tak terlalu berlebih. Beberapa pakar merekomendasikan, kopi baiknya dikonsumsi tanpa ada gula 2 x satu hari. Satu cangkir pada pagi hari sesudah sarapan serta waktu malam.

Kopi hitam tanpa ada gula bakal begitu memberi faedah untuk badan, juga baik diminum untuk pasien diabetes. Hal semacam ini karena tiap-tiap cangkir kopi hitam mengandung sekitaran 60 % nutrisi, 20 % vitamin, 10 % kalori serta 10 % mineral.

Leave a Reply