Masalah dalam Beternak Ayam ( Kisahku di Kukerta 3 )

PROLOG

Setiap dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan hewan yang bernama ayam, hewan kecil namun memiliki banyak manfaat, kita lihat saja, semenjak jadi telur dan belum terlahir ke dunia ini, kita sudah bisa memanfaatkannya, begitu pula ketika ia sudah terlahir ke dunia ini, tentunya banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari hewan yang satu ini.

eggs-664810_960_720

Sahabat lembahilmu.com, tahukah kalian ?, ternyata suara kokokan ayam pun memiliki manfaat bagi kita, sudahkah kita mendengar hadis Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang berbunyi,

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا

 “Jika kalian mendengar kokokan ayam maka mintalah keutamaan dari Allah. Karena (ayam ketika berkokok) telah melihat malaikat”. ( HR. Bukhori no. 3303, Muslim 2729 ).

Begitu pula di hadis yang lain beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا الدِّيكَ ، فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى الصَّلاَةِ

 “Janganlah kalian mencela ayam jantan. Karena sesungguhnya dia menyeru untuk sholat”

 

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan kisah ke 3 dari seri KUKERTA yang saya lakukan di Dusun Bangunrejo, yang mana kisah ini bercerita mengenai keadaan peternakan ayam di Dusun tersebut, bagi para pembaca silahkan menikmatinya.

 

 KISAH

Di pagi yang cerah, saya dan kedua teman saya mulai bergegas melakukan perjalanan menuju kandang ayam milik para peternak untuk mengetahui informasi-informasi yang berkaitan tentang peternakan di dusun Bangunrejo. Peternak pertama yang kami tuju adalah seorang ketua RW di dusun ini, yaitu Pak Surianto. Beliau merupakan peternak ayam yang cukup sukses di dusun ini.

Hal ini terbukti dengan dua kandang ayam yang cukup besar yang terletak di samping rumah beliau, bahkan sekarang beliau membangun satu kandang ayam lagi. Akan tetapi sangat disayangkan setelah sampai di rumahnya, kami hanya menemui seorang ibu yang sudah tua dan ketika kami tanyakan keberadaan pak RW, ibu itu menjawab: “Bapak sedang ngajar di sekolah”. Ternyata selain berprofesi sebagai peternak ayam, beliau juga seorang guru di salah satu sekolah di dusun Bangunrejo.

Dengan melewati jalan bebatuan, jalan yang menurun dan menanjak, kami pun mencari peternak ayam yang lain untuk dimintai informasi. Tak lama kemudian kami melihat kandang ayam yang tidak jauh dari jalan yang kami lewati dan kami langsung menuju ke kandang itu untuk menemui pemilik kandang tersebut.

Alhamdulillah di sana kami dapat menemui pemilik kandang ayam itu, yaitu Pak Pendi. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan kami ke kandang ayam tersebut, dia pun mulai bercerita tentang peternakan yang ada di Dusun Bangunrejo ini. Beliau memiliki dua kandang ayam yang berisi 2.500 ekor ayam. Dia memanen ayam tersebut setiap 36 hari sekali. Usaha ini sudah berjalan sekitar 13 tahun.

rooster-1001892_960_720

Dia mengatakan bahwasanya dahulu di dusun ini terdapat lima puluh kandang ayam, akan tetapi sekarang yang tersisa tidak sampai sepuluh kandang ayam. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantara faktor yang menghambat perkembangan peternakan ayam yang ada di dusun ini adalah faktor alam, yaitu musim hujan.

Ketika musim hujan, banyak wabah penyakit yang bermunculan yang menyerang ayam-ayam ternak. Selain itu, “sekam” (kulit padi) yang digunakan untuk alas, lebih cepat lembab sehingga apabila jika tidak terus diganti maka ayam-ayam tersebut mudah terkena penyakit dan mudah mati. Pada musim inilah Pak Pendi harus bekerja ekstra untuk merawat ayam-ayamnya, bahkan terkadang dia harus begadang untuk mengawasi ayam-ayam itu.

Selain musim hujan, faktor lain yang menghambat peternakan ayam ini adalah jarak kandang yang terlalu dekat dengan pemukiman warga sehingga dapat mengganggu kenyamanan warga sekitar, seperti timbulnya bau yang tidak sedap dan banyaknya lalat yang mengganggu warga sekitar.

Faktor lainnya juga, harga daging yang menurun sehingga para peternak hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit bahkan terkadang tidak mendapatkan keuntungan dari penjualan ayam-ayamnya.

Pak Pendi menceritakan, bahwa pada bulan Agustus, Desember, dan Februari yang lalu, banyak para peternak mengalami gagal panen termasuk dia sendiri. Gagal panen ini bukan hanya disebabkan oleh musim, akan tetapi hal ini juga disebabkan oleh jeleknya bibit yang didapatkan dari pabrik yang memasok ayam-ayam tersebut untuk para peternak.

cage-380935_960_720

Dia mengungkapkan bahwasanya sebagian bibit yang dijual ke para peternak itu tidak layak, karena bibit itu merupakan bibit yang sudah rusak yang biasa dijual di pasaran. Bibit-bibit seperti ini lebih mudah terserang oleh penyakit dan mudah mati, bahkan apabila dia hidup maka tubuh ayam-ayam ini tidak bisa besar seperti ayam normal lainnya dan beratnya pun kurang jika dibandingkan dengan bibit-bibit normal lainnya.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak Pendi, kami pun bertanya: “Berapa keuntungan yang bapak peroleh setiap kali panen ayam?” dengan wajah yang tidak mengenakkan serta rambut yang acak-acakan karena memikirkan peternakannya, dia menjawab: “Wah Mas…Mas, hutang saya ini sudah banyak, setiap kali gagal panen saya harus mencari pinjaman uang ke bank, kalau ada penghasilan dari panen, saya gunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga serta untuk membayar hutang.”

Setelah panjang lebar bercerita, beliaupun berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib rakyat kecil. Begitulah perjuangan beliau untuk menghidupi keluarganya, beliau tetap bersemangat dalam bekerja, sabar dan terus berdoa tanpa menghiraukan berbagai tantangan yang menghalanginya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberkahi usaha pak Pendi dan para peternak ayam lainnya.

Leave a Reply