Permasalahan Dusun Bangunrejo

Para pembaca http://lembahilmu.com  yang saya hormati, pada kesempatan yang lalu, saya telah menceritakan pengalaman- pengalaman yang saya dapatkan ketika menjalankan KUKERTA di Dusun Bangunrejo, maka pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan permasalahan-permasalanan umum yang terdapat pada Desa Carangwulung, terkususkan Desa Bangunrejo.

1. Kurangnya pengelolaan sumber air

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Penduduk Dusun Bangunrejo mengandalkan sumber air yang ada di sekitar sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka seperti minum, masak, mencuci, bercocok tanam, mandi dan lainnya. Mereka memanfaatkan sumber air di sekitar sungai dengan menaruh selang untuk disalurkan kerumah-rumah penduduk. Lalu mereka melakukan urunan ( patungan ) antar tetangga untuk mendapatkan selang dan digunakan secara bergantian melalui tampungan air (tandon). Sumber air ini sangat banyak dan mudah didapatkan oleh warga Bangunrejo.

r

Namun pada musim kemarau sumber air yang berada di desa Bangunrejo terkadang mengalami kelangkaan air dan membuat masyarakat kekurangan air, hal ini di karenakan para petani menyalurkan air kesawah-sawah untuk mengairi tanaman mereka.

2. Kurangnya tenaga pengajar di lembaga-lembaga pendidikan

Dengan kejadian yang sangat memperihatinkan inilah peserta KUKERTA Hasanah 2015 mengadakan beberapa kegiatan yang di bantu oleh pihak setempat yang mempunyai wewenang, diantara kegiatannya adalah:Dalam sektor pendidikan di Dusun Bangunrejo hanya terdapat tingkat pendidikan PAUD, SDN atau MI saja, dengan jumlah murid tiap tahunnya mengalami penurunan yang cukup signifikan di sebabkan kurangnya tenaga pengajar dan partisipasi dari orang tua murid untuk mengembangkan dan memajukan sekolah, sehingga banyak saya temui di berbagai tingkat pendidikan, di Dusun ini belum tertata rapi dan kegiatan belajar mengajar sehari-hari sangat kurang efektif.

indian-1119233_960_720

Dengan adanya fenomena tersebut, maka kami peserta KUKERTA HASANAH 2015, merencankan dan mengadakan kegiatan- kegiatan yang kami anggap bis membantu menyelesaikan permasalahan yang ada, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Mengadakan penyuluhan

Penyuluhan kepada masyarakat merupakan upaya memberi motivasi  dan dorongan akan pentingnya pendidikan. Karena dengan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat, sedikit demi sedikit akan timbul kesadaran dan minat untuk menyekolahkan anak-anaknya, dengan demikian pendidikan akan lebih maju dan kesadaran  orang tua akan pendidikan semakin tinggi.

speakers-414561_960_720

b. Pengkaderan

Pengkaderan ini merupakan suatu gagasan yang sangat bagus dari masyarakat yang harus direalisasikan. Pengkaderan ini dilakukan dengan mengirimkan anak-anak mereka dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada baik TPQ sampai tingkatan SDN atau MI di Desa Carangwulung untuk dijadikan kader dalam menyampaikan ilmu (berdakwah) di daerah tersebut setelah lulus. Hal ini dilakukan untuk mengatasi jumlah ustadz / da’i yang sangat sedikit, sehingga masyarakat tidak harus mendatangkan para da’i dari luar daerah, karena adanya kader-kader yang siap memperjuangkan agama Islam di daerah mereka.

3. Marjinalisasi kepemilikan tanah penduduk

Masyarakat desa Carangwulung merupakan masyarakat dinamis yang penuh perubahan dan pergeseran, baik jumlah penduduknya, jumlah ternak, tanah kepemilikan dan yang lainnya. Adapun sebagian besar perekonomian desa Carangwulung adalah bertumpu pada sektor pertanian, meskipun demikian, pekerjaan keseharian masyarakat bukan berarti petani yang memiliki sawah yang luas, akan tetapi kebanyakan masyarakat desa Carangwulung hanya sebagai buruh tani.

mountains-941047_960_720

Meskipun masyarakat memiliki tanah yang cukup luas, sulitnya perairan di desa ini (jauh dari saluran irigasi) membuat tanah-tanah masyarakat tersebut tidak bisa dimanfaatkan dalam sektor pertanian.

Oleh karena itu kepemilikan aset tanah tiap tahunnya semakin berkurang drastis dikarenakan warga setempat menjual sawah mereka kepada orang luar untuk kebutuhan dan keinginan mereka, kebanyakan warga terpengaruh akan penampilan dan keadaan orang kota, karena itu warga menjual tanahnya dengan harga yang sangat murah demi memenuhi keinginan mereka, inilah yang menjadi bergesernya aset tanah kepemilikan warga carangwulung.

Sungguh mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah masuk dalam “perampokan” secara samar. Mereka juga tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi “budak” dari lahan mereka sendiri, padahal dulu mereka adalah raja dari lahan yang mereka miliki.

 

Leave a Reply