Kisah Petani Sukses Indonesia

PROLOG

Bekerja adalah kewajiban setiap orang yang telah memiliki tanggungan di dalam hidupnya, karena jika seseorang menelantarkan orang yang menjadi tanggungan hidupnya, maka ia akan mendapatkan dosa karena telah menyia-nyiakan amanah yang telah diberikan kepadanya.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

“Seseorang sudah cukup berdosa bila menyia-nyiakan siapa yang wajib diberinya makan.”

( HR. Abu Dawud, no. 1692 dalam kitab az-Zakaah, Ahmad, no. 6459 ).

Di dalam hadis yang lain, nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai pekerjaan apakah yang paling baik, maka beliau  Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab,

عن رفاعة بن رافع رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل أي الكسب أطيب؟ قال: يا قال : عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور ،رواه البزار وصححه الحاكم

Dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya:”Apakah pekerjaan yang paling baik ( afdhol ) ?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab:”Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri (hasil jerih payah sendiri), dan setiap jual beli yang mabrur. (Hadits riwayat al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-Hakim rahimahumallah).

hands-1139098_960_720

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, aku akan menceritakan kisah seorang petani sukses yang ada di Desaku, beliau bernama Pak Wagiran, untuk lebih jelasnya, “monggo” ( silahkan ) untuk membaca kisahnya.

 Pak Wagiran, Petani Panutan Desa Adirejo Lampung Timur

padi-705586_960_720

Sawah yang terletak di sebelah Timur pondok Pesantren Khidmatussunnah Lampung Timur tampak begitu subur. Udara segar dapatku hirup di sini. Gemericik air yang mengalir di sungai kecil terdengar memecah keheningan daerah ini. Untuk sampai di sawah ini, saya hanya perlu berjalan beberapa langkah.

Ada sebuah gubuk kecil di tengah sawah yang inginku tuju, di sekitar bangunan kecil tersebut terdapat beberapa petak sawah yang masih ada padinya. Padahal padi di sawah yang lain sudah di tebang. Aku penasaran mengapa padi tersebut belum bisa dipanen. Rasa penasaranku semakin besar untuk mengetahui kondisi pertanian di sawah tersebut. Selain itu dari salah seorang warga, aku mendapatkan berita bahwa di sana sedang musim hama tikus.

Untuk sampai di gubuk tersebut aku harus melewati jalan tanah setapak yang cukup becek. Aliran air dari parit sangat lancar dan cukup melimpah. aku mengira bahwa petani yang memiliki sawah tersebut cukup sejahtera kehidupannya. Di tengah-tengah sawah juga aku jumpai ada satu kolam air yang tidak permanen (belik dalam bahasa Jawa), di depannya terdapat tempat yang dicor, aku bisa memastikan bahwa tempat tersebut digunakan untuk mencuci pakaian.

countryside-389072_960_720

Dugaanku juga diperkuat adanya beberapa orang yang membawa ember berisi pakaian berjalan menuju arah kolam tersebut . Ternyata masyarakat setempat memanfaatkan air yang mengalir dari sumber mata air yang ada di desa Adirejo untuk berbagai keperluan, termasuk di  antaranya untuk mencuci pakaian, pengairan sawah, air minum dan lainnya.

Di tengah perjalanan itu aku juga melihat gerombolan burung emprit (jawa) yang sedang mencuri padi milik petani.  Di samping kiri dan kanan jalan setapak, terdapat batang-batang padi yang belum sempat dibersihkan oleh petani.

Setelah menempuh jalan setapak tersebut sampailah aku di gubuk tersebut. Ternyata di sana ada seorang petani yang sedang “nenteng” rokok, beliau bernama Wagiran , sama sepertiku beliau tinggal di Desa Adirejo juga.

farmer-540658_960_720

Setelah berkenalan dan saling sapa, saya mulai menggali informasi untuk mengetahui gambaran kehidupan petani di Desa Adirejo, beliau bercerita banyak tentang kondisi pertanian di Desa Adirejo, sambil menyuguhkan pisang Ambon kepadaku beliau mulai bercerita tentang pahit dan manisnya menjadi petani.

Pak Wagiran adalah petani yang menyewa sawah milik seseorang di Jakarta, sistem yang disepakati adalah sistem bagi hasil, yaitu 50% dari modal yang dipakai untuk bertani berasal dari pemilik tanah, sedangkan pak Wagiran juga mengeluarkan 50% dari modal tersebut. Adapun hasilnya dibagi dua, separuh untuk pemilik tanah, sedangkan separuhnya diambil oleh pak Wagiran, dalam setahun pak Wagiran bisa panen sampai 3 kali.

Pak Wagiran mulai menggarap sawah sewaannya dengan mencangkul, beliau tidak menggunakan traktor, melainkan kerbau, hal ini dilakukan karena kondisi tanah yang sangat tebal, sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan traktor, karena beliau tidak mempunyai kerbau sendiri, beliau menyewanya dengan upah 50.000 setiap setengah harinya. Untuk menghasilkan panen yang bagus, pemupukan sangat diperlukan. Pupuk yang digunakan adalah emes dan KCL, belum berhenti sampai di situ, beliau juga harus mengatasi hama yang menyerang padi.

Dalam sekali panen Pak Wagiran dapat memanen padi sebanyak 2 ton 8 kwintal. Hasil yang cukup lumayan untuk sawah yang tidak terlalu lebar. Pak Wagiran menggunakan hasil panen tersebut untuk dikonsumsi sendiri. Sedangkan sisanya dijual kepada bakul yang ada di Desa Adirejo, hasilnya digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari.

Untuk menambah profit pertanian, Pak Wagiran juga menanam cabai di tegalan pinggir sawah. Selain cabai, di sekeliling sawah juga ditanami kacang panjang, hasilnya tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk tambahan sayuran.

chili-2364_960_720

Sebagai petani, Pak Wagiran juga mengalami berbagai macam kendala, di antaranya adalah masalah hama. Hama yang menyerang padi biasanya tikus, belalang, ulat dan burung emprit. Namun dengan kegigihan dan kesabaran beliau, berbagai macam cara untuk membasmi telah dilakukan.

Untuk tikus dibasmi dengan karbit yang dimasukkan ke lubangnya atau dengan tepung kanji yang dicampur dengan obat tikus yang diletakkan di lubangnya. Belalang dibasmi dengan pestisida yang dicampur dengan daun sirsak, adapun burung Pak Wagiran harus menjaga padinya sepanjang hari.

Dari pagi sampai sore beliau di sawah untuk menjaga padinya agar tidak dicuri oleh burung. Beliau memasang tiang-tiang kecil dari kayu di berbagai penjuru sawah. Kemudian ditarik tali sampai ke gubuk kecilnya. Kemudian beliau memasang plastik, kain dan kaleng yang diisi batu pada tali dan tiang tersebut,  burung akan lari jika itu semua diayunkan.

Itulah perjuangan petani untuk menyelamatkan tanamannya dari serangan hama, selain padi dan cabai di area sawah tersebut juga ditemukan pohon kelapa. Pak Wagiran bercerita tentang tanaman kelapa bahwasannya tidak ada perawatan khusus untuk jenis vegetasi ini.

palm-1028719_960_720

Buah kelapa dapat di panen setiap tiga bulan sekali. Untuk menjual hasil kelapa, petani tidak mengalami kesulitan. Petani hanya perlu datang ke tengkulak, tengkulak akan mengutus seseorang yang akan memanen kelapa. Satu buah kelapa yang besar dihargai 1500 rupiah. Untuk kelapa yang kecil petani hanya mendapatkan 1000 rupiah tiap buahnya. Saat musim penghujan hasil kelapa biasanya sangat banyak, namun apabila musim kemarau hasil penen menurun drastic, hasilnya bisa berkurang 50% dari hasil saat musim hujan.

Semoga Allah memeberikan kemudahan dan keberkahan kepada seluruh petani yang ada di Indonesia.

Leave a Reply