Petualangan di Pulau Sempu

PROLOG

Agama Islam adalah agama yang sempurna, dimana setiap perintahnya pasti akan mendatangkan kebaikan bagi hamba dan setiap larangannya pasti akan mendatangkan keburukan jika seorang hamba melanggarnya.

Diantara perintah dari Allah Subhanahu wa ta’ala kepada setiap hambaNya adalah senantiasa mentadabburi atau memperhatikan alam ciptaanNya, karena hal tersebut dapat meninggkatkan keimanan dan ketaqwaan hamba kepada Rabbnya.


Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman petualang saya dengan teman-teman kuliah saya, yang mana saya merasa petualangan kita ini memiliki faidah dan pengalaman yang tidak terlupakan, tentunya juga menjadi sebuah petualangan yang semakin mendekatkan kita kepada Sang pencipta.

KISAH

Petualangan adalah jalan yang ditempuh oleh siapa saja yang ingin menikmati keindahan dan mencari inspirasi dalam hidup ini. perjalanan kali ini aku bersama teman-teman 1 angkat memilih pulau Sempu yang sebagai tujuan, sebuah gili kecil yang bertempat di kota Malang.

Pada tanggal 8 Januari 2014 lalu, kaDSC_0084mi memulai perjalanan from Surabaya go to Malang, perjalanan ini cukuplah panjang, namun ini sangat kami nikmati meski sedikit melelahkan, kami merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat indahnya pemandangan dari atas ketinggian di sebuah tempat di kota Malang, hamparan sawah, pepohonan yang rindang dan air terjun yang berjatuhan seakan menyirami hati kami yang merindukan kesejukan dan ketentraman, sungguh pemandangan yang sangat mengesankan, pemandangan yang tak pernah kami dapatkan di Surabaya, di tambah kelihaian sopir angkot yang menerjang kelak-kelok jalan seakan memberikan kami gambaran akan sulitnya jalan yang akan kami tempuh di pulau Sempu nanti.

Sesampainya kami di Sendang Biru tepatnya sebelum melakukan penyebrangan menuju pulau Sempu, kami terlebih dahulu shalat dan menyantap lembaran-lembaran roti karpet yang di lumuri manisnya coklat dan susu, hitung-hitung sebagai tambahan tenaga di perjalanan nanti, hehehe.

Penyeberangan pun dimulai dan tidak kami sadari rintangan demi rintangan telah tersenyum manis menunggu kami di depan. Dari kejauhan terdengar deburan ombak yang teramat besar menghantam karang menggoyahkan kapal, seakan memberikan semangat dan motivasi kepada kami. “Kalian tau gak sobat…???,”

“KARENA ADANYA RINTANGAN DAN COBAAN, HIDUP INI MENJADI INDAH UNTUK KITA RASAKAN”.

Tak terasa kapal telah menepi, keindahan pulau pun menyambut kami, tanaman bakau berbaris rapi di tepian, pepohonaCYMERA_20140110_094738n yang rindang siap menaungi dari terik yang membakar.

“Sempu oh sempu”, kau tersimpuh manis menunggu kedatangan kami dan membuka pintumu lebar-lebar untuk dimasuki.
Semua barang dan perlengkapan telah kami turunkan dari kapal, kemudian kami bersiap-siap mengambil langkah menuju tujuan.

“Ayo kita mulai start sobat”, ujar salah seorang diantara kami,

“Upps…., Tapi dimohon kuatkan tekat kalian duluuu….!!!”, ujar yang lain,

“Emang napa…???”,
“Coba aja liat tuh di depan kalian….!!!”

Ternyata kami disambut oleh lumpur yang siap menghisap dan menelan kaki dan sandal kami.Meski demikian kami semua memiliki tekat yang kuat dan semangat yang sangat tinggi.

“Ayo semangaaat, pasang kuda-kuda yang kuat ya, go go go !!!”, salah seorang dari kami memberikan aba-aba.
“Pendahulu kita adalah para pejuang, maka kita taklukan petualangan ini dengan semangat juang 45”, hehehe, ujar yang lain sambil berteriak memberikan semangat.

Dengan membawa beban yang lumayan berat perjalanan pun kami mulai, setapak demi setapak kaki melangkah, rintangan demi rintangan kami taklukkan,pundak sakit tak jadi masalah, kaki luka tak jadi hambatan,licinnya jalan, tajamnya bebatuan kami jalani dengan senyuman.

Persimpangan pun tak menjadi perdebatan, karena Segoro Anakan serasa di depan, sambil menikmati keindahan hutan yang sangat rindang dan merasakan naungan yang diberikan, teriknya mentari tak pernah kami rasakan, kini keindahan berganti keindahan menyematkan kesejukan dalam jiwa ini.

Kami telah melangkah jauh, kami terus melangkah dan terus melangkah,
“Sobaaat ayo semangaaaat !!!, ada Ahmar di depaan, ada Dina juga di depan”, ( canda kami tuk kobarkan semangat).
Senyuman demi senyuman menghiasi wajah, canda demi canda mengiringi langkah,
“Huh, capek juga ya” ujarku dalam hati.

Jalan yang berlumpur terkadang menjadikan kami jengkel, namun disitulah tempat petualangan dan tersimpan momen-momen dan kenangan yang akan selalu teringat hingga nanti.“ Woee.. yang di depan stop… tungguin yang di belakang dong… woee… woee….stop…!!!” ( teriak sebagian kami, Mmm… termasuk saya juga sih…) hehe.

Setelah istirahat sejenak perjalanan pun kami lanjutkan ,
Wuurrr… Wuurrr…. ( Suara ombak terdengar dari kejauhan),
“Ayo cepat sudah dekat, tuh denger suara ombak”

Kami pun mengambil langkah cepat dan akhirnya sampai di sebuah pantai yang sangat indah, ya pantai yang sangat indah, warga menamainya pantai Baru-Baru, namun kami menamainya pantai Rahmah dan ada pula yang menamainya pantai 21 dan pantai 5, nama-nama ini memiliki alasan dan sebab tersendiri, cukuplah kami yang mengetahui alasan-alasan tersebut.

Ini bukanlah tempat yang menjadi tujuan kami, di pantai ini kami istirahat sejenak, agar ketegangan otot dan rasa capek berkurang. Setelah mandi dan bermain-main kami merencanakan kelanjutan dari petualangan ini. Beberapa orang teman pergi mencari jejak yang mungkin bisa mengantarkan kami ke tujuan utama, yaitu “Segoro Anakan”.

Alat bantu seperti Kompas dan peta kami keluarkan, kesepakatan pun terbentuk, sekitar jam 5 sore kami mulai beranjak menelusuri jalan setapak yang kami tak tau entah kemanakah dia akan menggiring kami. Perjalanan yang telah kami lewati penuh petualangan, namun ketahuilah, petualangan, rintangan dan cobaan yang sebenarnya ternyata sedang menanti kami di LEMBAH TAWWABIN ( lembah orang-orang yang bertaubat ).
“O ya, tahukah kalian apa itu LEMBAH TAWWABIN . . . ????.”

PETUALANGAN ADALAH SEBUAH LANGKAH UNTUK MENGINGAT ALLAH (RABBUL ‘AALAMIIN)

Sekitar jam 5 sore kami melanjutkan perjalanan, semangat kami masih hangat, semangat 45, semangat muda, jiwa muda. (Ayo terus maju dan nikmatilah petualangan yg penuh tantangan ini sobat). Kami terus berjalan dan tak lagi memikirkan makan, bukit karang kami daki, duri ilalang kami lalui, sampailah kami di sebuah pantai di seberang bukit, pantai yang sangat indah pula kawan, namun ombaknya sangat mengerikan, (gedeee buangeet, Wuurrrr . . .).
O ya, mari kita lanjutkan perjalanan.

Kami beranjak pergi dan kembali menelusuri jalan, pada saat itu peta dan kompas adalah barang yang sangat berharga sekali bagi kami, sinar mentari semakin redup seakan bosan melihat petualangan ini, namun itu tak melemahkan tekad kami, matahari boleh saja padam namun semangat kami masih menyala bahkan semakin berkobar. Setelah berjalan cukup jauh sampailah kami di sebuah Lembah, “LEMBAH TAWWABIN” lembah yang penuh kenangan dan petualangan.

Dengan kehati-hatian kami menelusuri bukit yang cukup curam nan licin guna mencari jalan di lembah tersebut, hari semakin senja cahaya pun semakin redup,
“ coba lihat peta, kemanakah kita akan mengarah ” ujar sebagian kami.
“Siip, kita semakin dekat sobat, ayo terus semangat !!!”.

Kami terus berjalan sampai pada akhirnya sampailah kami di sebuah rawa, namun rawa tidaklah jadi hambatan, kami terus berjalan menelusuri rawa yang berada di dekat bukit.    “Ya Allah, tidak ada jalan sobat”, ujar mereka yang berjalan di depan. Kami pun balik arah dan kembali mengatur rencana, kemudian terbentuklah sebuah kesepakatan untuk mengambil jalur mutar dengan cara membuat jalan sendiri. Sambil berjalan kami membuat tanda agar tidak tersesat nantinya.

Air yang dalam, pohon tumbang, disertai permukaan tanah yang tidak rata menggoyahkan langkah kami, namun semua itu terus kami lalui. Hari semakin gelap, tanda-tanda keberadaan Segoro Anakan ( tujuan utama kami ) tak kami dapati.

“Oh Segoro dimanakah engkau ???”.
“Di depan ada cahaya, 20 meter ada cahaya !!!”, teriak salah seorang teman kami.
Hati pun terasa lega meski hanya secuil, jadi pelipur lara sedikit.

Setelah berjalan cukup jauh menelusuri rawa, kami mendapati daratan, namun tak mungkin bagi kami untuk membangun tenda di sana. Tahu kenapa ?, karena daratan itu hanyalah tanah miring yang berada di bawah tebing, dia juga tidak luas dan ditumbuhi pepohonan. Kami mengambil langkah mencari arah dan berjalan setapak demi setapak melawan amarah. Kami tak lagi melihat jalan, kaki terkilir, barang jatuh dan lain sebagainya, intinya, jatuh bangun kami melangkah.

INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN, kami terperangkap di bawah tebing, Sebagian yang di depan memanjatnya guna mencari jalan tempat bermalam, akhirnya sampailah mereka di atas. Namun apakah yang terjadi sobat, Kabar gembira ataukah . . . ???, terdengarlah teriakan dari atas, “ laut lepaaas” (suaranya lirih menunjukkan kesedihan)

Hari sudah malam sementara jalan tak kami dapatkan.
“Ya Ilahana, Ya Rabbal kholaik, akankah kami tidur dibawah tebing yang mungkin saja
menimpa kami, ataukah di tengah rawa beralaskan air beratapkan pohon…

أعوذ بكلمات الله التامة من شر ما خلق

Doa-doa semacam itulah yang terlontar dari lisan-lisan kami.
Kesedihan, kegelisahan, dan lain sebagainya, menjadi satu bukan (3 in 1) lagi sobat, namun berbagai rasa bercampur menjadi satu, tak mungkin bagi saya untuk mengungkapkannya, hanya Allah-lah yang teringat dalam hati, karena bermalam di dalam lembah Tawwabin (inilah sebab kami menamakan lembah ini dengan lembah Attawwabin, yaitu disebabkan dilembah inilah kita mengingat kematian dan banyak-banyak bertaubat kepada Allah) tidak memungkinkan, kami memutuskan untuk kembali ke pantai yang pertama (Pantai Rahmah, yah walau memang jaraknya sangat jauh untuk kami kembali dan juga hari yang sudah gelap)

Bermodalkan semangat , kesabaran dan 3 buah lampu senter, kami balik arah menelusuri jejak-jejak yg telah kami tinggalkan, dalam kegelapan dan kerindangan hutan, kami terus melintasi rawa. Ya Allah ya Rabbana, hanya engkaulah pelindung kami, kebersamaan sangatlah nampak saat itu, kami ibarat sebuah bangunan yang saling topang-menopang antara yang satu dengan yang lain, yang sakit kami bantu, yang keram kami tunggu, curamnya tebing kami daki, licinnya jalan kami lalui, dan tajamnya batu terus kami jalani.

Malam pun semakin kelam, bagaimana tidak, waktu salat isya’ saja sudah masuk ketika kami berada di dalam Rawa, namun ingat, kami masih semangaaaat . . . .!!! hehe. Setelah melalui berbagai rintangan yang menyisakan kenangan-kenangan yang tak terlupakan, kami merasakan kebahagiaan ketika suara ombak mulai terdengar,  “Wuuurr,,” dan sampailah kami di pantai yg kedua, pantai yg berada di seberang bukit, kami istirahat sejenak, namun sayang, gerimis memaksa kami melanjutkan perjalanan.

“Ayo angkat bawaan kalian”, teriak sebagian kami.
Kami pun mulai mengambil langkah, dan kembali melintasi duri-duri ilalang kemudian kembali menyebrangi hutan, setelah beberapa saat berjalan rasa sedih dan “konco-konconya” menghilang seketika dan tergantikan oleh kebahagiaan, keceriaan, keharuan.
“kalian tahu kenapa . . . ??”, karena kami telah bertemu dengan pantai pertama yang kami rindukan.

21
“ALHAMDULILLAH YA ALLAH . . .”

Setelah semua berkumpul kami istirahat sejanak mengambil nafas baru dari lelah dan letih yang kami lewati.Kemudian kami berbagi tugas, ada yang buat tenda ada yang masak dan lain sebagainya, serta sebagian yang lainnya melaksanakan shalat terlebih dahulu. Setelah makan, kami beristirahat untuk menyambut hari esok yang penuh canda dan tawa.

” الله أكبر الله أكبر..”

Suara adzan shubuh membangunkan kami dari lelapnya tidur, suara azan yang dikumandangkan oleh salah seorang teman kami, lirih suaranya seakan mengingatkan kami akan kematian. Semua bergegas mengambil air wudhu, tapi ada yang masih tidur tuh, hehhe.

“yowesslah nanti dia juga nyusul”

Seusai shalat kami duduk sejenak memandang mentari pagi, sungguh pagi yang sangat indah di tepian pantai dikelilingi bukit, Subhanallah pemandangan yang indah ini sangat kami nikmati.
“Ayo siapa yang masak….??” Ujar salah seorang dari kami.
Aktifitas pun telah dimulai, pembagian tugas dan yang lainnya kami rancang kembali.
“Ayo Sarapaan-Sarapaaan !!”
“eeh,,, ternyata masih ada yang melanjutin tidurnya”,
“Ayo bangunin semua !!!”.

Kami pun mulai menyantap nasi dengan belaukan mie. “Mmm.. masakan alternatif, cepat saji dan cepat pula menikmatinnya”. Seusai sarapan diantara kami ada yang memilih jalan-jalan menyisiri tepian pantai, dan ada pula yang duduk termenung memandang deburan ombak menghujam kokohnya karang yang berada di kejauhan sana.

Waktu terus berjalan, aktifitas yang satu dengan yg lain silih berganti, itulah roda kehidupan, sekitar jam 9 atau jam 10 kami mendapati air pantai mulai surut, dan ini merupakan kesempatan yang bagus untuk berburu binatang laut, bermodalkan pisau dan parang, kami mulai berjalan ke tengah pantai, dengan penuh konsentrasi setiap kami memperhatikan semua gerakan yang ada di dalam air,

“Itu satuuu..” ujar salah seorang dari kami,
“mana-mana..” ,,,,“tadi disini”….
kosentrasi pun semakin bertambah,
“ceppp…” si Izzuddin ( nama salah seorang teman kami ) melayangkan parangnya, apakah dia berhasil ?,mari kita lihat, hehe.
Ternyata dia emang pemburu yang jitu, “Kita dapaat…!!!”.

Perburuan terus kami lanjutkan dan itu berlangsung cukup lama, kami pun mendapatkan berbagai macam jenis hewan laut, ikan, belut, lobster dan banyak lainnya ( klo disebut semua terlalu banyak, hehe ). seusai berburu teman-teman bermain bola, tempatnya cukup bagus.

“Mmmm…, pantai ini bisa dibilang multifungsi,tau kenapa..??”, karena jikalau air surut dia seperti lapangan yang terhampar dibawahnya pasir putih dan jika siang hari dia sebagai tempat menguji adrenalin, dikarenakan air mulai naik dan ombak semakin besar, jadi siang itu kami gunakan untuk mandi, terjun melawan deburan ombak yang menghantam nyali dan menggoyahkan tubuh-tubuh kami, pokoknya “seruuuuuu buangeeet, hehehe”.
(( Ceritanya kita singkat aja yah, karena capek nulisnya…. Hehe )).

Seusai shalat zuhur kami menikmati makan siang dengan penuh semangat, maklum kami semua lelah dan sangat lapar. Setelah makan kami berkumpul, duduk-duduk bareng, berbagi canda dan tawa, berbagi nostalgia tentang jerih payah yang kami tempuh selama perjalanan kemarin, cukup seru ditambah dengan hidangan kopi dan ubi rebus, Pulau Sempu seakan menjadi milik kami kala itu.

Tidur-tiduran dibawah pohon yang besar nan lebat akan dedaunanya memberikan kesejukan tersendiri untuk kami nikmati, hembusan angin pantai seakan membisiki telinga-telinga kami, bercerita tentang keindahan yang tersimpan padanya. Hari semakin senja, matahari pun sudah lelah memantau aktifitas kami (mataharinya juga cukup tua sih, sudah dekat waktu kebinasaannya, tapi dia menyempatkan diri tuk melihat betapa serunya petualangan yang kami lalui ini, hehehe ).

Kami semua mulai mengambil air wudhu dan bersiap-siap untuk menunaikan shalat magrib yang langsung dijama’ dengan shalat Isya’. Seusai shalat kami kembali duduk santai hanyut dalam lautan senda gurau, berlampukan sebuah lampu kecil ditambah redupnya sinar rembulan, sambil duduk di sisi api unggun berharap ia memberikan kehangatan untuk tubuh kami. Sungguh malam yang cukup indah.

“Tolooong.. tolooong.. tolooong…” sebuah suara yang terdengar dari kejauhan, suara itu memecahkan asiknya senda gurau kami. Berbagai macam persangkaan hadir dalam benak kami, ada yang bilang itu suara binatang buas, ada juga yang bilang itu suara perampok dan dugaan-dugaan aneh lainnya terlintas di benak kami.

Kami pun segera mempersenjatai diri dengan parang kayu dan apa-apa yg bisa kami pergunakan, setelah beberapa saat kemudian dari kejauhan terlihatlah cahaya lampu senter, kami pun yakin jikalau itu memang orang, namun meski demikian kami tetap berjaga-jaga untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan ( sekiranya nyawa jadi taruhan gak jadi masalah, hehe ).

Ehh…,ternyata mereka adalah sekumpulan petualang yang sedang tersesat, kami pun menyambut mereka dengan baik, mereka juga adalah petualang sama seperti kita, o iya bisa dibilang kami dengan mereka itu kembar tapi beda, dalam artian sama-sama semester 5 jurusan bahasa Arab, tapi beda tempat kuliah, kami di Surabaya sedangkan mereka di Malang. Keakraban pun langsung tercipta diantara kami,

“Makan malam udah siap tuh, ayo kita makan dulu..!!!”, ujar salah seorang teman kami yang bertugas piket masak. Sehabis makan ada yang langsung tidur dan ada pula yang masih berbincang-bincang ( termasuk saya ).

Sobat…

Malam ini langit sedang mendung, kilatan petir dan suara gemuruh seakan memberikan peringatan kepada kami agar berjaga-jaga ketika hujan turun, ternyata perkiraan tidak meleset, sekitar jam 12 lebih hujan turun mengguyur, dalam keadaaan seperti itu tidur kami cukup pulas meski sedikit terganggu oleh suara rintik-rintik hujan yang menembaki tenda kami. Malam telah berlalu ditutup oleh suara azan yang dikumandangkan oleh salah seorang teman kami ( Ust Cak Nun ).

Seusai shalat kami kembali menikmati indahnya pagi, setelah itu kami sarapan kemudian berkemas-kemas melakukan persiapan untuk pulang, setelah semua beres dan semua perlengkapan telah terdata, kami tidak lupa untuk membersihkan pantai dari sampah-sampah bekas kami.

Dengan penuh semanIMG_20140109_131951gat dan sedikit kesedihan kami memulai perjalanan untuk kembali, semua tanda dan jejak kami perhatikan dengan seksama, agar tidak tersesat untuk yang kedua kalinya, hehehe.

Perjalanan panjang pun telah berlalu dan sekarang kita telah sampai di posko awal tempat penyeberangan, sambil menunggu kapal menjemput, kami menyempatkan diri untuk bermain takraw, permainan yang lumayan seru sebagai penghilang kejenuhan dari lelahnya perjalan yang telah kami lalui, kapal telah datang, kami semua mulai bergegas, setelah kapal melandas di tepian, kami mulai turun dan menunggu jemputan angkot yang telah mengantar kami kemarin, setelah menunggu cukup lama akhirnya angkot pun telah tiba dan perjalanan menuju stasiun telah dimulai, yang mana dari stasiun itu selanjutnya perjalan kami kembali ke Surabaya, kota dimana kita menuntut ilmu akan semakin dekat.

Penulis : Yahya al-Lomboky

7 Comments

  1. hamzah Februari 16, 2016
    • Adams Aljawiyu Februari 17, 2016
  2. abu ahmad Februari 17, 2016
  3. hamzah Februari 18, 2016
    • Adams Aljawiyu Februari 20, 2016
      • hamzah Februari 27, 2016
    • Adams Aljawiyu Februari 20, 2016

Leave a Reply