Beternak Sapi Perah

Pada tanggal 21- 22 Januari 2015, aku menyusuri jalan di Dusun Bangunrejo, di sela-sela perjalan, aku melihat rumah warga yang dimana terdapat kandang sapi perah yang cukup besar, maka dengan bermodalkan rasa penasaran dan ingin lebih mengetahui keadaan peternakan di Dusun Bangunrejo, aku memberanikan diriku untuk masuk kerumah tersebut.

dairy-farm-927579__180

“Assalaamu’alaikum”, sapaku meminta izin pada pemilik rumah, “wa’alaikumussalam”, jawab pemilik rumah dengan ramah. Akhirnya kami berkenalan, ternyata pemilik rumah itu bernama Bapak Riono dan Ibu Supriani, dari mereka berdua aku mendapatkan penjelasan mengenai sapi perah, berikut penjelasannya :

Sapi perah merupakan salah satu jenis di antara banyaknya jenis sapi yang ada di dunia terkhususnya di Indonesia. Banyak daerah yang tersebar hampir di seluruh pulau di Indonesia memiliki pusat peternakan sapi perah, dan salah satunya ada di desa Wonosalam, Dusun Bangunrejo, Jombang.

Sapi perah adalah sapi yang dimanfaatkan oleh manusia untuk diambil susunya untuk dikonsumsi. Harus kita ketahui, sapi perah bisa kita katakan siap untuk diambil dan diproduksi susunya ketika sapi perah berumur 2 tahun ke atas setelah sapi perah melahirkan anaknya melalui hasil perkawinan baik secara normal ( langsung ), maupun suntik (tidak langsung).

Sapi perah mampu bertahan hidup hingga umur 20 sampai 30 tahun bahkan lebih, tergantung perlakuan kebersihan dan kesehatan sapi dan lingkungan sekitar kandang, serta perawatan maksimal yang diberikan oleh peternak kepada sapi-sapinya.

Setelah sapi melahirkan, anak sapi akan dibiarkan ikut dengan indukannya hingga berumur kurang lebih satu minggu, setelah itu dilepas seutuhnya dari induknya, dan si induk sapi akan mulai dipisahkan dari ananknya untuk diambil susunya.

Sapi perah akan terus diambil dan diproduksi susunya hingga sapi kembali mengandung dan usia kandungan sapi berumur 7 bulan.  Setelah itu sapi akan diliburkan dari pemerahan sapi demi kebaikan janin sapi dan kualitas produksi susu sapi yang tersimpan di kantung sapi perah tersebut.

Sapi perah akan diproduksi susunya dan akan terus menghasilkan susu terbaiknya hingga sapi perah melahirkan anaknya yang ke lima atau ke enam, bisa lebih dari itu dilihat dari kondisi sapi yang akan di produksi susunya.

Setelah sapi perah berhenti untuk diambil atau diperah susunya oleh sang peternak, sapi perah akan dipindah alihkan profesinya, dari seekor sapi perah menjadi sapi potong ( sapi pedaging ) yang dijual untuk diperjualkan dagingnya. Sehingga kedudukan seekor sapi perah dapat beralih peran tanpa merugikan sang pemilik sapi untuk memperoleh nominal uang dalam menunjang kehidupan sehari-hari sang pemilik sapi.

Baik tidaknya kualitas susu yang dihasilkan sapi dapat kita ketahui dari tempat di mana tinggal sapi, dari perbandingan makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh sapi perah tersebut, dan dari waktu pemerahan susunya. Dilihat dari tempat tinggal sapi perah, sapi perah bagus tinggal dan hidup didataran dengan ketinggian 450 sampai 1000 di atas permukaan laut, di bawah itu kehidupan sapi kurang baik serta produksi susu tidak maksimal.

Dilihat dari perbandingan konsumsi makan dan minumnya sapi. Sapi akan menghasilkan susu dengan kualitas baik, ketika perbandingan makan sapi lebih banyak dari minum sapi, agar menghasilkan susu yang baik dan kental. Adapun dengan perbandingan minum yang lebih banyak dibandingkan makan, akan menghasilkan perahan susu yang encer/tidak kental dan kurang baik. Sedangkan sapi akan menghasilkan susu dengan takaran yang banyak dikala dalam sehari terjadi dua kali pemerahan sapi, yaitu di waktu setelah shubuh dan di waktu sore hari, dengan begitu sapi akan menghasilkan susu sebanyak 15-20 liter perharinya.

cow-991236__180

Ibarat hubungan batin yang terjadi di kehidupan antar manusia. Sapi pun begitu, sapi memiliki hubungan batin dengan pemiliknya. Dapat kita lihat dari kelakuan dan perbedaan perahan susu sapi yang dihasilkan ketika seeokar sapi perah diperah susunya oleh seorang selain pemilik sapi.

Seekor sapi yang diperah dengan seorang selain dari pemilik sapi aslinya, akan jauh sekali perbandingannya dengan perahan ketika sapi tersebut diperah oleh sang pemilik. Produksi susu yang dihasilkan pun jauh berbanding dengan hasil perahan sang pemilik asli sapi perah. Hal itu disebabkan karena perlakuan dan cara pemerahan susu sapi yang berbeda dari kebiasaan perlakuan sapi yang biasanya diterima dan didapatkan seekor sapi dari pemiliknya.

Seekor hewan berhak mendapatkan kehidupan layak dan perlakuan baik dari manusia. Karena baiknya kita kepada hewan akan mengembalikan timbal balik yang baik pula terhadap kita. Begitu pula hubungan dan perlakuan baik yang dibangun dan terjadi antara seorang perternak sapi perah dengan ternakannya. Perlakuan dan perhatian yang baik dapat menunjang kesehatan dan meningkatkan kualitas kehidupan sapi perah, sehingga akan menghasilkan sapi perah yang sehat dan unggul.

Oleh karena itu, perlakukanlah hewan dengan baik sebagaimana seharusnya perlaukuan kita kepada mereka sesama makhluk Allah, dengan memenuhi semua hak-haknya sebagai hewan. Dengan begitu kita akan mendapatkan kebaikan dari hewan tersebut dan kita akan mendapat balasan baik dari Allah subhaanahu wa ta’ala.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

عن عبد الله ، رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ارحم من في الأرض يرحمك من في السماء

“Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi Ar Rahman, sayangilah makhluk yang berada di muka bumi, pasti yang di langit akan mengasihimu.” ( Hadist Shohih Riwayat Bukhori ).

2 Comments

  1. Liberto Amin April 13, 2016
    • Adams Aljawiyu April 13, 2016

Leave a Reply